> Teks ini dalam format pdf
> In English / dalam bahasa Inggris

Perkebunan Baru Bahan Pulp Berskala Luas Mengancam Hutan-Hutan Rawa Riau

Oleh Otto Miettinen (oto(@)iki.fi) Friends of the Earth Finland, 9 Desember 2004
Translasi dari bahasa Inggris ke Indonesia oleh Saleh Abdullah (Finnish Indonesia Society)

Untuk memenuhi kebutuhan industri pulpnya (bubur kayu), baru-baru ini perusahaan pulp Asia Pacific Resources International (APRIL) mengajukan permohonan konsesi baru kepada pemerintah Indonesia, di provinsi Riau, Sumatera Tengah. Gubernur Riau telah memberikan rekomendasi bagi permohonan tersebut, namun keputusan akhir masih belum diberikan pemerintah. Konsesi yang diajukan meliputi 215.790 ha tanah, yang hampir seluruhnya meliputi hutan rawa dan mangrove (hutan bakau) di pesisir pantai timur Sumatera (gambar 1-2). APRIL berencana membabat hutan di kawasan tersebut, memakai kayunya untuk pulp, dan lalu menanam tanaman bagi kebutuhan industri pulpnya. Bila konsesi ini akhirnya diberikan, maka ia akan membabat sisa dari hutan rawa gambut kedua terbesar di dunia (bandingkan Stibig et al. 2002). ORNOP konservasi hutan setempat Jikalahari, dalam pernyataan persnya, menuntut agar pemerintah tidak mengeluarkan konsesi tersebut, dan mereka juga menuntut agar Gubernur Riau mencabut rekomendasinya (siaran pers 26.09.2004).

Konsesi tersebut membentang di 3 kabupaten: Pelalawan, Siak dan Bengkalis. Bentangan area konsesi ini membelah 2 blok besar: Serapung di wilayah utama (sekitar 151.000 ha) dan pulau Padang di wilayah gugusan Padang (sekitar 64.000 ha). APRIL memproyeksikan setiap tahunnya, dalam kurun waktu 7 tahun, akan memperoleh 3,2 juta meter kubik kayu dari hutan-hutan alam yang masuk dalam wilayah konsesinya, segera setelah lahan-lahan tersebut dikonversikan. Saat ini kebutuhan produksi APRIL terhadap bahan baku pulp sebanyak 9,5 juta meter kubik, di mana sebanyak sepertiganya akan diperoleh dari lahan-lahan konsesi tersebut ketika nantinya lahan-lahan tersebut dibersihkan.

Gambar 1. Wilayah hutan di bagian barat Indonesia dan Malaysia pada tahun 2002 (Stibig et al. 2002). Kotak empat persegi panjang putih menunjukkan lokasi gambar 2 dan konsesi yang diajukan APRIL.

>>> Versi lebih besar gambar ini

Gambar 2. Konsesi yang diajukan APRIL (garis merah). Di latar belakang gambar satelit (Citra Landsat) tahun 2002, yang memperlihatkan tata guna dan letak tanah di area tersebut (daerah hijau gelap adalah hutan-hutan alam, biru adalah air dan warna pink/merah muda adalah lahan-lahan yang baru saja dibersihkan). Bintang putih menunjukkan lokasi dari gambar 4-6. Peta oleh Jikalahari.


Konsesi dan pelenyapan hutan-hutan rawa

Hutan-hutan rawa gambut pada dasarnya adalah hutan hujan dataran rendah yang tumbuh di atas tanah-tanah basah dibentuk dari sisa-sisa angkatan hutan sebelumnya (tanah gambut). Untuk daerah-daerah tropis, bersama New Guinea, Sumatera memiliki area tanah gambut terbesar (Radjagukguk 1997), tetapi keutuhan hutan-hutan rawa gambut itu sedang menuju kepunahan dalam tingkat yang mengkhawatirkan — di mana sebagian besar ekosistemnya yang asli di Sumatera sudah berubah (dikonversi) peruntukannya atau terfragmentasi secara terpisah-pisah. Sisa hutan rawa gambut Sumatera yang terbesar dan masih utuh, yang diperkirakan berkisar 1 juta ha, terhampar di sekitar sungai Kampar di Riau Tengah. Inilah hutan belantara yang sangat penting yang diakui oleh World Resources Institute dalam pemetaannya tentang hutan belantara luas (Bryant et al. 1997). Hanya empat area di Sumatera yang dimasukan di dalam list tersebut.

Di sebagian besar area konsesi yang diajukan telah mengalami berbagai macam kadar penebangan selektif kayu log, dan sebagian kecil darinya sudah mulai gundul. Beberapa perusahaan sebelumnya telah membuat kanal dengan menggali tanah, untuk mengalirkan kayu-kayu gelondongan, dan hingga kini kanal-kanal tersebut masih digunakan oleh para pencuri kayu. Saat ini, tidak ada satupun izin konsesi resmi yang dikeluarkan di daerah tersebut. Setidaknya di sepanjang bagian selatan sungai kampar yang termasuk wilayah konsesi dimaksud, dalam skala yang luas, terdapat pembabatan kayu gelondongan ilegal. Sebagian besar hutan-hutan rawa di sana sudah tidak dalam kondisi yang alami, walaupun masih tetap bisa dikatakan sebagai hutan yang lebat dan rapat, dan tetap bisa bertahan dalam stok yang lumayan baik walaupun berdampingan dengan jenis-jenis pohon komersial. Walaupun para penebang kayu gelondongan di bagian selatan wilayah konsesi mengeruk kayu meranti (Shorea spp.) dan jenis lainnya dalam jumlah besar, tetapi sejumlah besar pohon tersisa masih tegak berdiri (riset lapangan, July 2004, lihat gambar 3-5). Undang-undang kehutanan No. 41/1999 menyatakan bahwa sebaiknya hanya area yang stok hutannya jarang (gundul), dan tanah tandus yang bisa dikonversi bagi hutan tanaman industri (HTI). Hamparan area gundul dimaksud di Riau sangat banyak, dan karenanya konsesi yang diajukan di atas di mana area hutannya masih bagus dan akan dibabat lalu dijadikan area HTI, nyata-nyata bertentangan dengan Undang-Undang kehutanan tersebut. Sialnya, pelanggaran terhadap aturan-aturan kehutanan semacam ini, yang melibatkan pemerintah dan pengusaha semacam APRIL, sangat sering terjadi. Dalam sejarahnya, sudah selama 10 tahun APRIL melakukan konversi hutan bagi industri pulpnya.

Peraturan-peraturan juga sudah menentukan penggunaan lahan-lahan gambut. Keppres 32/1990, PP 47/1997 misalnya, menyatakan bahwa semua area gambut yang memiliki kedalaman lebih dari 3 meter, harus diperuntukkan bagi daerah lindung. Sayangnya, aturan inipun tidak pernah diimplementasikan.



Gambar 3. Peta ketebalan tanah gambut di Riau daratan. Konsesi yang diajukan APRIL ditandai dengan garis merah. Bagian lahan utama konsesi, sebagian besarnya, terletak di atas lahan gambut yang tebalnya melebihi 4 meter. Berdasarkan peta Wetlands Int. & CIDA (2003).


Konsesi yang diajukan APRIL berada di atas lahan-lahan gambut, yang pembentukannya sudah sejak ribuan tahun lalu. Dalam asesmen tentang pengaruh dampak lingkungan di area konsesi tersebut dinyatakan bahwa kedalaman area gambutnya setidaknya 2 meter. Sangat sedikit informasi akurat yang tersedia tentang ketebalan lahan-lahan gambut di area tersebut. Paling tidak di pulau Padang, kedalamannya mencapai 12 meter (Brady 1997). Menurut pemetaan umum tentang lahan-lahan gambut di Sumatera, sebagian besar area rawa gambut Kampar, termasuk area konsesi yang diajukan, memiliki kedalaman yang tinggi, yaitu lebih dari 4 meter (gambar 3, Wetlands Int. & CIDA 2003). Konversi dan pengeringan apapun di area tersebut akan mengakibatkan degredasi ekosistem rawa yang tidak dapat dipulihkan lagi. Bila hal itu terjadi, lahan-lahan gambut akan mulai membusuk dan akan mengeluarkan karbon ke atmosfir dalam jumlah besar. Permukaan gambut akan menyurut bermeter-meter dan sangat mungkin akan mengakibatkan permukaan tanah tenggelam ke bawah permukaan laut selamanya (Wosten et al. 1997). Dan pada gilirannya area tersebut malah akan menjadi sumber karbon daripada ketertenggelamannya sendiri. Sekitar 5% dari seluruh karbon bumi diperkirakan termasuk kawasan gambut tropis (Diemont et al. 1997, Rieley et al. 2004). Nasib selanjutnya dari cadangan-cadangan karbon itu akan mempunyai implikasi besar terhadap keseimbangan karbon di atmosfir.

Lahan-lahan gambut yang dikonversi menjadi kawasan pertanian di Indonesia, memberikan catatan-catatan memprihatinkan. Tanah-tanah itu umumnya tidak mempunyai kandungan gizi (nutrisi) yang baik, dan sering kembali menjadi lahan-lahan gundul setelah dikonversi. Walaupun perusahaan-perusahaan pulp di Riau telah sukses menanam akasia di lahan rawa-rawa gambut, tidak ada informasi yang bisa dipercaya tentang kelanjutan jangka panjang usaha mereka (Barr 2001). Bagaimanapun, terdapat bukti-bukti tak terbantah bahwa perkebunan-perkebunan rawa gambut membutuhkan investasi besar, tingkat produksi yang rendah, resiko kebakaran yang sangat tinggi, dan berbagai macam penyakit dan kematian tanaman yang disebabkan lapisan atas tanah, daripada perkebunan di tanah-tanah bermineral (Cossalter 2004). Kemungkinan-kemungkinannya adalah hasil-hasil perkebunan akan merosot dari waktu ke waktu selain juga akan membuat tanah menjadi gundul – masa depan perkebunan jenis ini, sungguh, serba tidak pasti.

Dalam pengaturan manajemen, hutan-hutan rawa hendaknya harus selalu dipertimbangkan seperti tata air yang menyeluruh. Pengeringan yang akan dilakukan APRIL dalam konsesi yang mereka ajukan tanpa bisa dielakkan akan mempengaruhi hutan-hutan rawa di daerah-daerah pedalaman, dan efek itu akan sulit dihindari. Demikian pengkonversian hutan akan memberi akibat lebih luas dari pembabatan, lewat mengeringkan daerah pedalaman, membuat daerah menjadi lebih terbuka dan juga beresiko pada kebakaran hutan. Sebagian dari area konsesi yang diajukan juga meliputi, dan atau membatasi, daerah-daerah konservasi, termasuk Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang. Andaikan area itu tidak dikonversipun, binatang-binatang itu sudah sangat menderita menghadapi perubahan-perubahan lingkungan di sekitar mereka.

Dari segi keragaman hayati (biodiversity) hutan-hutan rawa gambut sangat penting. Dibandingkan dengan hutan-hutan dataran rendah pada tanah bermineral, jenis-jenis pohon yang bermutu dan tinggi di hutan rawa gambut lebih sedikit. Tetapi bagaimanapun hutan-hutan rawa gambut lebih mempunyai keragaman ekosistem dibanding yang lain di bumi ini. Jenis-jenis pohon endemik dalam jumlah yang banyak ditemukan di kawasan hutan-hutan rawa gambut, selain juga terdapat habitat penting bagi banyak pohon dan binatang yang terancam punah dan hanya dapat ditemukan di hutan-hutan dataran rendah (Rieley & Page 1997). Beberapa jenis tanaman yang sudah semakin berkurang dan terancam punah seperti meranti (Shorea spp.), ramin (Gonystylus spp.) dan jelutung (Dyera spp.) biasa ditemukan di area konsesi. Dan juga beberapa binatang yang saat ini nyaris punah seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan buaya muara (Crocodylus porosus).

Masalah kebakaran hutan

Kebakaran-kebakaran lahan dan hutan yang tak terkendali di Indonesia telah menyebabkan sekian banyak masalah lingkungan di Asia Tenggara. Pada musim kemarau 1997-1998 asap tebal dari kebakaran hutan yang menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, Singapura dan Malaysia telah menyebabkan sejumlah masalah kesehatan dan ekonomi. Kerugian yang diduga mencapai milyaran dollar. Sejumlah besar karbon menguap ke atmosfir jagad raya, sekitar 13-40% dari pengeluaran karbon dunia yang dikeluarkan bahan bakar setiap tahunnya. Menurut catatan, dalam hitungan per-tahun, pengeluaran karbon ketika kebakaran itu terjadi, sebagai yang terbesar sejak tahun 1950-an. Sejak itu Indonesia terus mengalami kebakaran lahan setiap tahunnya, membawa akibat-akibat yang sama, walaupun sejauh ini skalanya lebih kecil. Rawa-rawa gambut yang terbakar akan menjadi sebab terbesar bagi munculnya kabut asap dan karbon. Dengan demikian rawa-rawa gambut, dalam kasus kebakaran hutan, dapat dipandang sebagai penyebab utama sejumlah masalah lingkungan dan karenanya juga sekaligus sebagai kunci pemecahannya (Page et al. 2002, Tacconi 2003).

Hutan-hutan rawa gambut dalam kondisinya yang alamiyah tidak akan mudah terbakar. Keteledoran ulah manusia, pembuatan kanal-kanal dan selektif logging akan membuat hutan rawa gambut menjadi terbuka, tanah dan tetumbuhan mengering, sehingga akan memudahkan terjadinya kebakaran hutan (Bechteler & Siegert 2004). Seandainyapun lahan-lahan itu dikeringkan dengan cara semestinya dan lalu tumbuhannya diganti dengan akasia sebagaimana direncanakan, resiko bagi malapetaka kebakaran hutan malah bisa lebih tinggi lagi. Sekali terbakar, bagai api dalam sekam, timbunan tumpukan gambut akan terus terbakar selama bertahun-tahun. Pemulihan tanaman hutan setelah kebakaran akan memakan waktu lama, dan akan sering terhambat bila kebakaran terulang. Perkebunan-perkebunan yang direncanakan dalam konsesi dimaksud, dalam cakupan sangat luas, akan memecah-mecah dan mengeringkan area rawa gambut di Riau daratan dan akan memperluas akses ke hutan-hutan lain melewati kawasan konsesi. Dan karenanya pula akan semakin mempertinggi resiko kebakaran bagi hutan-hutan di luar area konsesi tersebut. Posisi pesisir rawa-rawa gambut di Riau dan konsesi yang diajukan berada pas berhadap-hadapan dengan negara-kota Singapura yang berpenduduk padat dan daratan semenanjung Malaysia, yang penduduk-penduduknya selalu menderita karena kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia selama tahun-tahun belakangan ini. Bencana kebakaran hutan di lahan-lahan gambut Riau akan membawa dampak yang sangat berat ke wilayah-wilayah lain di luar Indonesia.

Contoh dari sebuah kesalahan dalam mengkonversi lahan gambut menjadi lahan-lahan olahan dapat dilihat pada mega-proyek persawahan di daratan Kalimantan bagian selatan (Provinsi Kalimantan Tengah). Proyek ini diharapkan dapat merubah 1 juta hektar lahan gambut di provinsi tersebut menjadi ladang-ladang persawahan, tetapi malah gagal total tidak karuan. Malapetaka kebakaran hutan 1997-1998 mengamuk hebat di lahan-lahan yang telah dikeringkan dan lahan-lahan gambut yang sudah dibabat tuntas demi proyek persawahan 1 juta hektar tersebut, dan sejak itu kebakaran terus terjadi setiap tahunnya di area tersebut. Dari sinilah emisi karbon terbanyak dari kebakaran hutan dikeluarkan. Sebagian besar area tersebut saat ini menjadi lahan gundul, dan inisiatif untuk mencegah bencana lanjutan telah diambil yang pasti akan sangat mahal dan membutuhkan waktu panjang (Aldhous 2004).

Informasi dasar tentang RAPP dan APRIL

Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) adalah perusahaan yang secara serentak memproduksi bubur kertas (pulp) di Kerinci, Sumatra tengah, provinsi Riau , dan memiliki perkebunan-perkebunan kayu bahan pembuat kayu bubur (bahan untuk membuat bubur kertas). Saat ini kapasitas produksi per-tahunnya mencapai 2 juta ton untuk pulp dan 350.000 ton kertas mulus bermutu, yang membuatnya menjadi salah satu pabrik pulp terbesar di dunia. RAPP pada mulanya adalah bagian dari perusahaan Singapura, Asia Pacific Holdings International Ltd. (APRIL), tetapi saat ini dimiliki oleh perusahaan Indonesia, Raja Garuda Mas, kelompok bisnis milik Sukanto Tanoto. RAPP mulai beroperasi pada 1995. Pabriknya direncanakan oleh perusahaan konsultan Finlandia Jaakko Pöyry, mesin-mesin umumnya didatangkan dari Eropa, khususnya dari perusahaan-perusahaan manufaktur Eropa Utara. Sejumlah agen kredit export telah menjamin sejumlah pinjaman bagi APRIL, termasuk Finnish Guarantee Board dan Swedish Exportkreditnamnden. Salah satu pembeli tunggal terbesarnya adalah perusahaan Finlandia UPM, yang pabrik kertasnya di Changshu, Cina secara tertutup menggunakan pulp dari RAPP. RAPP menjual pulp dan produk kertas bermutunya (dengan cap PaperOne) ke seluruh dunia, sementara pasar utamanya adalah Asia Timur dan Asia Tenggara.

Perusahaan ini memulai operasinya sebelum mempunyai perkebunan untuk mensuplay bahan baku industrinya, dan karenanya pada mulanya mereka sepenuhnya mengandalkan hutan-hutan alam. Berdasarkan angka-angka perusahaan sendiri, setelah beroperasi selama 10 tahun, dan masih terus seperti ini: RAPP hanya memperoleh 20-30% bahan baku dari perkebunan monokultur akasianya. Sisanya mereka ambil dari hutan-hutan alam yang terdapat di dalam konsesi-konsesi mereka (280.000 ha) dan juga dari luar area konsesi. Hal itu akan tetap berlangsung pada tahun-tahun mendatang (sampai 2008 menurut perusahaan), kendati melangkanya hutan-hutan alam di Sumatra Tengah akan menjadi sumber masalah. Beberapa area hutan hujan dataran rendah yang berharga telah dihancurkan oleh APRIL, seperti wilayah penyangga (buffer zone) Taman Nasional Bukit Tigapuluh, sekeliling Taman Nasional Teso Nilo (yang baru ditetapkan, yang menurut catatan studi, setiap bidang tanahnya memiliki "tumbuh-tumbuhan berpembuluh" (vascular plants) terkaya di dunia), dan wilayah pesisir rawa-rawa gambut di Pelalawan. Beberapa binatang yang nyaris punah seperti harimau dan gajah Sumatra, sudah sangat berkurang karena praktek industri pulp di Riau. Tidak ada lagi perusahaan pulp di negara-negara tropis kecuali pabrik pulp di Riau, Indah Kiat, yang menyebabkan luluh lantaknya alam. Selain merusak hutan, perusahaan ini juga terlibat dalam melakukan penggusuran tanah di sekitar Riau, yang sebagian di antaranya mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan terhadap rakyat yang melakukan protes ketika tanah-tanahnya digusur (misalnya yang terjadi di Kerinci, Lubuk Jambi).

Masalah mendasar dengan industri pulp di Riau adalah kapasitas berlebihan (overcapacity) dalam kaitannya dengan kesinambungan sumber bahan baku. Karena itu ORNOP lokal dan nasional, dan bahkan kementerian kehutanan telah meminta agar dilakukan restrukturisasi industri pulp, tapi sejauh ini harapan itu hanya sia-sia. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan tersebut malah merencanakan untuk menambah tingkat kapasitas mereka.

Informasi tambahan

Bila anda memerlukan informasi tambahan yang berhubungan dengan masalah ini silahkan mengunjungi:
- Friends of the Earth Finlandia, tema APRIL/UPM (artikel pengantar di atas tersedia di website tersebut) www.maanystavat.fi/april
- Laporan Robin Wood (LSM Jermania) tentang APRIL dan APP (bahasa Inggris) www.robinwood.de/sumatrarecherche
- Laporan Friends of the Earth Inggris tentang APRIL dan APP www.foe.co.uk/campaigns/corporates/case_studies
- Laporan "Banking on sustainability" oleh Christopher Barr (CIFOR) tersedia di www.cifor.org
- ORNOP jaringan konservasi hutan di Riau, Jikalahari www.jikalahari.org
- Website APRIL www.april.com.sg

Sumber dan referensi

Sebagian besar informasi tentang konsesi yang diajukan diberikan oleh Zulfahmi, koordinator jaringan ORNOP Riau untuk konservasi hutan (Jikalahari), yang secara resmi menjadi anggota tim pembuatan Asesmen Dampak Lingkungan di area konsesi.

Aldhous, P. 2004: Borneo is burning. - Nature 432: 144-146.

Barr, C. 2001. Banking on sustainability: structural adjustment and forestry reform in post-Suharto Indonesia. - Washington, DC., USA, WWF Macroeconomics Program Office and CIFOR. 140 pp.

Bechteler, A. & Siegert, F. 2004: Recurrent fires in tropical peatlands in central Kalimantan. - Pages 607-613 in Päivänen, J. (ed.): Wise Use of Peatlands. Proceedings of the 12th Internatinonal Peat Congress. International Peat Society, Jyväskylä. 831 pp.

Brady, M. A. 1997: Effects of vegetation changes on organic matter dynamics in three coastal peat deposits in Sumatra, Indonesia. - Pages 113-134 in Rieley & Page 1997.

Bryant, D., Nielsen D. & Tangley L. 1997: Last frontier forests: Ecosystems and economies on the edge. - World Resources Institute, Washington DC. 42 pp.

Cossalter, C. 2004: New sustainability action plan for Indah Kiat Pulp & Paper – In-house presentation, 5 March 2004, CIFOR.

Diemont, W.H., Nabuurs, G.J., Rieley, J.O. & Rijksen, H.D. 1997: Climate change and management of tropical peatlands as a carbon reservoir. - Pages 363-8 in Rieley & Page 1997.

Page S.E., Siegert, F., Rieley, J.O., Boehm, H.-D.V., Jaya, A. & Limin, S. 2002: The amount of carbon released from peatn and forest fires in Indonesia during 1997 - Nature 420: 61-65.

Radjagukguk, B. 1997: Peat Soils of Indonesia: Location, classification and problems for Sustainability. - Pages 45-54 in Rieley & Page 1997.

Rieley, J. O. & Page, S. E. (eds.) 1997: Biodiversity and sustainability of tropical peatlands. - Samara Publishing Limited, Cardigan. 370 pp.

Rieley, J., Page, S., Wuest, R., Weiss, D. & Limin, S 2004: Tropical peatlands and climate change: past, present and future perspectives. - Pages 713-719 in Päivänen, J. (ed.): Wise Use of Peatlands. Proceedings of the 12th International Peat Congress. International Peat Society, Jyväskylä. 831 pp.

Stibig H-J., Beuchle, R, and Janvier, P. 2002. Forest cover map of insular Southeast Asia at 1:5 500 000. TREES Publications Series D: Nº3, EUR 20129 EN, European Commission, Luxembourg. Also available at: http://www.gvm.sai.jrc.it/Forest/

Tacconi, L. 2003: Fires in Indonesia. Causes, costs and policy implications. - CIFOR occasional paper no. 38. CIFOR, Bogor. 30 pp.

Wetlands International & Canadian International Development Agency 2003: Map of area of peatland distribution and carbon content, 2002, province of Riau.

Wösten, J.H.M., Ismail, A.B. & van Wijk, A.L.M 1997: Peat subsidence and its practical implications: a case study in Malaysia. - Geoderma 78: 25-36.

 

 

>>> Versi lebih besar gambar ini

Figure 4. Well-stocked, selectively logged peat swamp forests near Kampar river in the proposed APRIL concession area (fig. 2). All photos by Otto Miettinen, July 2004.

>>> Versi lebih besar gambar ini

Figure 5. Illegal logs are transported out of forest using canals in APRIL's proposed concession area. No roads exist.


>>> Versi lebih besar gambar ini

Figure 6. Logged over peat swamp forest in APRIL' s proposed concession. Meranti (Shorea spp.) trees and logs of over 50 cm in diameter (such as in the photo) were still common in the area in July 2004.